Entry: Apa Yang Terjadi Kalau Mereka Yang Gagal Evolusi Naik Lift Friday, August 24, 2007



Di lantai 4 lift terbuka dan masuklah segerombolan orang, memadati ruang lift yang memang sudah setengah penuh itu. Salah satunya, dengan badan yang tidak bisa dibilang kecil dan ransel yang tak kalah dengan badannya menyeruak di antara gue dan Pian, OB kantor.

Setelah orang terakhir masuk, alarm berbunyi. Lift kepenuhan. Gue mulai was-was. Untungnya orang yang naik terakhir langsung sadar dan menarik diri keluar lift.

‘Waa keberatan tuh,’ seru seorang perempuan yang berdiri di dekat pintu dan tombol lift bagian kiri, ‘coba kalo lo yang naik pasti bisa deh, masih muat nih.’ Katanya lagi sambil mengajak seorang temannya yang memang bertubuh kecil. Tangan perempuan ini menahan tombol pembuka pintu.

Si laki-laki kecil berbaju merah enggan masuk, ia masih cukup berakal sehat untuk tidak memaksakan diri berdesakan dalam lift yang sudah penuh itu. Mungkin juga dia agak jeri melihat pandangan galak gue.

‘Ayo!’ seru perempuan itu lagi, ‘masih muat kok!’ tangannya masih menahan tombol yang artinya selama itu kami yang berada di dalam lift menjadi terhambat turun.

‘Pian, tutup aja pintunya,’ bisik gue ke OB yang berdiri di depan gue di hadapan tombol lift bagian kanan.

Gue mulai kesal. Kalo emang dia nggak mau ikutan kenapa mesti dipaksa dengan mengorbankan orang lain sih? Kan bukan cuma dia yang mau pake lift ini! Heran!

Setelah sekali lagi gagal membujuk temannya, akhirnya si perempuan itu menutup pintu lift.

Alarm kembali berbunyi.

Tiga perempuan yang masuk bareng di lantai 4 ini kembali menceracau. Mengomentari berat badan temannya yang berada di antara gue dan OB itu.

Temannya diam dan berusaha mengecilkan tubuhnya. Tindakan yang jelas sia-sia. Alarm berbunyi bukan karena ukuran tubuh, tapi karena kelebihan beban, Mas.

‘Keberatan nih, keluar aja lo,’ kata salah satu dari tiga perempuan itu pada si badan besar, tapi tak satupun dari mereka beranjak.

Kesabaran gue habis.

‘kalau nggak ada yang mau keluar, ya udah saya aja yang keluar,’ kata gue sambil melangkah ke pintu.

Si badan besar dengan ransel segede gunung akhirnya mengalah dan melangkah keluar melewati gue.

Akhirnya, setelah cukup lama tertahan karena hal-hal yang nggak penting itu pintu lift tertutup dan kembali bergerak turun. Kali ini alarm tidak berbunyi.

‘Bukan apa-apa,’ kata gue memulai pembicaraan to nobody in particular, ‘soalnya minggu lalu saya naik lift ini dan kepenuhan, akibatnya jatuh dari lantai 2 ke lantai dasar.’

‘Kapan Mas?’ kata si perempuan yang tadi menahan pintu dan memaksa temannya masuk.

‘Minggu lalu,’ jawab gue nggak acuh.

‘Jatuh bener apa cuma turun terus ketahan?’ tanya seseorang.

‘Jatuh bener. Saya naik di lantai dasar, lalu di lantai 2 ada segerombolan orang naik, liftnya kelebihan beban, dan nggak bisa naik ke lantai 3 malah jatuh ke lantai dasar. BRUK! Gitu,’ jawab gue.

‘Wah serem juga ya,’ kata si perempuan.

‘Iya, lagian liftnya juga sih yang udah kedaluwarsa,’ kata temannya.

Monyet! Babi! Anjing! Kutukupret! Laknat! Bangsat! Udah tau lift kedaluwarsa ngapain lo pake maksa-maksain temen lo masuk?? Mikir dong! Mikir! Pake otak! Jangan pake handphone terbaru!!

 

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments